Showing posts with label Pengantar Pembelajaran. Show all posts
Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif (MMI)
Sunday, February 10, 2013
Posted by Unknown
Tag :
Pengantar Pembelajaran
Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya: TV dan film. Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah pembelajaran interaktif, aplikasi game, dll.
Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktifitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsurunsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa. Dari uraian di atas, apabila kedua konsep tersebut kita gabungkan maka multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pilihan, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali.
Sutopo menjelaskan bahwa model media interaktif dalam banyak aplikasi, pengguna dapat memilih apa yang akan dikerjakan selanjutnya, bertanya, dan mendapatkan jawaban yang mempengaruhi komputer untuk mengerjakan fungsi selanjutnya. Model media interaktif mempunyai banyak aplikasi untuk menampilkan berbagai animasi dan simulasi, dalam hal ini simulasi dan animasi dalam konsep fisika. Siswa akan sangat tertolong dengan model media interaktif dalam memahami konsep yang abstrak. Karena media dapat membuat konsep yang bersifat abstrak tersebut menjadi lebih konkrit. Selanjutnya konsep yang sudah konkrit tersebut akan membuat siswa jadi lebih bermakna dalam pembelajarannya.
Model Pembelajaran dengan media dapat digunakan dalam pengajaran dan pembelajaran fisika sebagai:
- Laboratorium Virtual melalui modeling dan presentasi fenomena dan proses.
- Ruang belajar yang ekspresif dimana siswa dapat mendemonstrasikan ide-ide mereka, memprediksi, menurunkan hukum fisika dan menyelesaikan soal-soal.
a. Tutorial
Format sajian ini merupakan multimedia pembelajaran yang dalam penyampaian materinya dilakukan secara tutorial, sebagaimana layaknya tutorial yang dilakukan oleh guru atau instruktur. Informasi yang berisi suatu konsep disajikan dengan teks, gambar, baik diam atau bergerak dan grafik. Pada saat yang tepat, yaitu ketika dianggap bahwa pengguna telah membaca, menginterpretasikan dan menyerap konsep itu, diajukan serangkaian pertanyaan atau tugas. Jika jawaban atau respon pengguna benar, kemudian dilanjutkan dengan materi berikutnya. Jika jawaban atau respon pengguna salah, maka pengguna harus mengulang memahami konsep tersebut secara keseluruhan ataupun pada bagian-bagian tertentu saja (remedial). Kemudian pada bahagian akhir biasanya akan diberikan serangkaian pertanyaaan yang merupakan tes untuk mengukur tingkat pemahaman pengguna atas konsep atau materi yang disampaikan.
b. Drill dan Parctise
Format ini dimaksudkan untuk melatih pengguna sehingga mempunyai kemahiran di dalam suatu keterampilan atau memperkuat penguasaan terhadap suatu konsep. Program ini juga menyediakan serangkaian soal atau pertanyaan yang biasanya ditampilkan secara acak, sehingga setiap kali digunakan maka soal atau pertanyaan yang tampil akan selalu berbeda, atau paling tidak dalam kombinasi yang berbeda.
Program ini juga dilengkapi dengan jawaban yang benar, lengkap dengan penjelasannya sehingga diharapkan pengguna akan bisa pula memahami suatu konsep tertentu. Pada bahagian akhir, pengguna juga bisa melihat skor akhir yang dia capai, sebagai indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam memecahkan soal-soal yang diajukan.
c. Simulasi
Bentuk pengajaran dengan komputer ini dimaksudkan untuk memberikan simulasi pada suatu keadaan khusus, atau sistem di mana siswa dapat berinteraksi. Siswa dapat menyebut informasi, sehingga dapat sampai pada jawabannya, karena mereka berpikir sehat, mencobakan interpretasinya dari prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Komputer akan menceritakan pada siswa apakah dampak dari keputusannya, terutama tentang reaksi dari kritikan atau pendapatnya. Pada dasarnya format ini berusaha memberikan pengalaman masalah “dunia nyata” yang berhubungan dengan resiko.
d. Percobaan dan Eksperimen
Format ini mirip dengan format simulasi, namun lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat eksperimen, seperti kegiatan praktikum di laboratorium IPA, biologi atau kimia. Program menyediakan serangkaian peralatan dan bahan, kemudian pengguna bisa melakukan percobaan atau eksperimen sesuai petunjuk dan kemudian pengembangkan eksperimen-eksperimen lain berdasarkan petunjuk tersebut. Diharapkan pada akhirnya pengguna dapat menjelaskan suatu konsep atau fenomena tertentu berdasarkan eksperimen yang mereka lakukan secara maya tersebut.
e. Permainan
Tentu saja bentuk permaianan yang disajikan disini tetap mengacu pada proses pembelajaran dan dengan program multimedia berformat ini diharapkan terjadi aktifitas belajar sambil bermain. Dengan demikian pengguna tidak merasa bahwa mereka sesungguhnya sedang belajar
Perkembangan zaman dapat ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Karena itu dalam proses pembelajaran perlu juga dikembangkan cara-cara mengajar yang baru pula, di antaranya ialah cara mengajar dengan mempergunakan komputer. Metode mengajar ini dikembangkan karena pertama-tama sudah jelas pada kehidupan modern di masa depan, komputer merupakan suatu alat yang penting. Dengan bantuan komputer dapat diajarkan cara-cara mencari inforamsi baru, yaitu dengan menyeleksi dan mengolah pertanyaan, sehingga terdapat jawaban terhadap suatu pertanyaan itu. Roestiyah (2001) menjelaskan bahwa secara teori, komputer mempunyai kekuatan keahlian yang lebih daripada seorang guru, karena komputer dapat:
- Menyimpan beberapa informasi
- Memilih informasi tersebut dengan kecepatan yang tinggi
- Menyajikan pada siswa dengan tanda diagram yang menantang
- Memberi jawaban tipe kebutuhan siswa
- Memberi umpan balik kepada siswa secara individual secepatnya
- Memberikan informasi yang berbedaan dengan siswa yang berbeda pula.
Dibalik kehandalan komputer sebagai media pembelajaran terdapat beberapa persoalan yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan awal bagi pengelola pengajaran berbasis computer, sebagai berikut :
- Perangkat keras dan lunak yang mahal dan cepat ketinggalan zaman
- Teknologi yang sangat cepat berubah, sangat memungkinkan perangkat yang dibeli saat ini beberapa tahun kemudian akan ketinggalan zaman.
- Pembuatan program yang rumit serta dalam pengoperasian awal perlu pendamping guna menjelaskan penggunaannya. Hal ini bisa disiasati dengan pembuatan modul pendamping yang menjelaskan penggunaan dan pengoperasian program.
Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata ”medium”, batasan mengenai pengertian media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan dalam pembelajaran.
Pertanyaan yang sering muncul adalah mempertanyakan pentingnya media dalam sebuah pembelajaran. Sebelumnya, kita harus mengetahui terlebih dulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran. Karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun nonverbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding.
Dalam penafsiran tersebut ada kalanya berhasil, dan ada kalanya tidak berhasil atau gagal. Dengan kata lain dapat dikatakan kegagalan atau ketidakberhasilan dalam memahami apa yang didengar, dibaca, dilihat atau diamati. Kegagalan atau ketidakberhasilan itu disebabkan oleh gangguan yang menjadi penghambat komunikasi yang dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Semakin banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima. Lantas dimana fungsi media? Ada baiknya kita melihat diagram Dale’s Cone of Experience dari Edgar Dale (1969) yang secara jelas memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam pendidikan :
Menurut Bruner (1966) ada tiga tingkatan utama dalam modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial/gambar (iconic) dan pengalaman abstrak (symbolic). Kerucut pengalaman diatas merupakan elaborasi yang rinci dari ketiga tingkatan tersebut. Hasil belajar seseorang diperoleh dari pengalaman langsung (kongkret), kenyataan yang ada dilingkungan kemudian melalui benda tiruan sampai pada lambang verbal (abstrak). Hal ini tidak menjadi sebuah parameter bahwa setiap interaksi belajar mengajar harus dimulai dari pengalaman langsung, melainkan dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajarnya.
Secara umum dapat dikatakan media mempunyai kegunaan, antara lain:
- Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
- Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
- Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
- Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.
- Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama.
Pembelajaran
merupakan suatu proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar yang dilakukan secara aktif. Proses pembelajaran di kelas seharusnya sudah mengarah kepada peran aktif siswa (student centered). Pembelajaran yang bersifat student centered menggunakan teori belajar konstruktivistik yang membantu siswa untuk membentuk kembali, atau mentransformasi
informasi baru sehingga menghasilkan suatu kreasi pemahaman baru.
Salah satu alternatif model pembelajaran
yang berlandaskan paradigma
konstruktivistik adalah Children Learning in Science (CLIS).
Model CLIS
dikemukakan oleh Driver di Inggris. Children’s
Learning In Science (CLIS) berarti anak belajar dalam sains. Sciences
dalam bahasa Indonesia ditulis
sains atau Ilmu Pengetahuan Alam, didefinisikan sebagai suatu kumpulan pengetahuan tersusun
secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada
gejala-gejala alam. Perkembangannya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi
oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah (Rohadi, 2001). Conant dalam Subiyanto
(1990), mendefinisikan sains sebagai bangunan
konsep yang saling berhubungan sebagai hasil dari eksperimen dan
observasi. Sedangkan
menurut Fisher dalam Riyanto (2000), sains adalah bangunan pengetahuan yang
diperoleh menggunakan metode berdasarkan observasi, dengan adanya konsep-konsep baru
tersebut kemudian akan mendorong dilakukannya
eksperimen.
Berdasarkan definisi
sains dapat diketahui bahwa ada dua aspek yang penting dari sains yaitu proses
sains dan produk sains. Proses sains adalah metode, prosedur dan cara-cara
untuk menyelidiki dan memecahkan masalah-masalah sains. Sedangkan produk sains
adalah hasil dari proses berupa fakta, prinsip, konsep dan hukum sains
(Claxton, 1991 dalam Riyanto, 2000). Unsur Sains meliputi proses, sikap dan
produk, maka pembelajaran sains hendaknya dapat melibatkan siswa dengan ketiga
unsur tersebut. Artinya tidak menekankan pada salah satu unsur dan mengabaikan
unsur lain, melalui keterlibatan ini siswa diharapkan memiliki sikap ilmiah
(jujur, teliti, ulet, tekun dan disiplin).
Dari beberapa
penelitian sebelumnya, mengungkapkan bahwa pengaruh model pembelajaran
CLIS pada pokok bahasan tertentu dapat meningkatkan
pemahaman konsep siswa. Kajian lain
menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif, efektif,
dan psikomotor setelah diimplementasikan model
CLIS yang telah dikembangkan.
Model Pembelajaran Clis
Dengan Menggunakan Media Pembelajaran
Children Learning in Science (CLIS) merupakan model pembelajaran yang mempunyai karakteristik yang dilandasi paradigma
konstruktivisme dengan memperhatikan pengetahuan awal siswa. Pembelajaran
berpusat pada siswa melalui aktivitas hands on/ minds on.
Model pembelajaran CLIS
memiliki karakteristik :
- Dilandasi oleh pandangan konstruktivisme.
- Pembelajaran berpusat pada siswa.
- Melakukan aktivitas hands-on/ mind-on
- Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar.
Model Pembelajaran CLIS
memiliki lima tahapan yaitu :
- Orientasi. Guru memusatkan perhatian siswa terhadap materi yang akan dipelajari berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
- Pemunculan gagasan. Guru memunculkan konsepsi awal siswa.
- Penyusunan gagasan ulang, dengan melalui langkah sebagai berikut: (a) Pengungkapan dan pertukaran gagasan ; siswa membentuk kelompok kecil, dan melakukan diskusi pengamatan dari tahap pemunculan gagasan. (b) Pembukaan situasi dan konflik ; Siswa mencari pengertian ilmiah yang sedang dipelajari. Siswa mencari beberapa perbedaan antara konsepsi awal mereka dengan konsepsi ilmiah. (c) Konstruksi gagasan baru dan evaluasi ; Mengevaluasi gagasan yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari untuk mengkonstruksi gagasan baru.
- Penerapan gagasan. Setiap kelompok diberi pengamatan dan percobaan baru yang lebih kompleks tetapi memiliki keterkaitan dengan konsep yang sedang dipelajari. Sehingga pengetahuan siswa menjadi bertambah dan berkembang.
- Mengkaji ulang perubahan gagasan. Guru memperkuat konsep ilmiah yang diperoleh siswa.
Penggunaan media pembelajaran pada model CLIS dimaksudkan
sebagai alat bantu ajar yang mendampingi
guru agar siswa lebih mudah memahami sesuatu dari materi yang diajarkan.
Semoga Bermanfaat
Silahkan dikomentari agar terjadi transfer saran dan kritikan yang saling membangun
Konsep belajar juga dikenal sebagai
kategori pembelajaran dan pencapaian konsep, sebagian
besar didasarkan pada karya-karya psikolog kognitif
Jerome Bruner. Bruner, Goodnow, & Austin (1967)
pencapaian konsep yang didefinisikan (atau belajar konsep) sebagai
"pencarian dan daftar atribut yang dapat digunakan untuk membedakan eksamplar
dan non eksamplar dari
berbagai kategori.
Lebih sederhananya, konsep kategori mental yang membantu kita
mengklasifikasikan benda-benda, peristiwa, atau ide-ide dan masing-masing
objek, peristiwa, atau ide memiliki seperangkat fitur yang relevan.
Dengan
demikian, konsep pembelajaran merupakan strategi yang mengharuskan seorang pelajar untuk membandingkan kelompok
kontras dan atau kategori yang berisi fitur-konsep yang relevan dengan kelompok
atau kategori yang tidak berisi fitur-konsep yang relevan. (Bruce Joice dkk, 1980 :37)
Kemampuan pemahaman konsep dalam
pembelajaran fisika adalah tingkat kemampuan yang menuntut siswa mampu memahami
arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini, siswa
tidak hanya hapal secara verbal, tetapi mengerti atau paham terhadap konsep
atau fakta yang dinyatakannya.
Selanjutnya, Agus Martawijaya dan
Muhammad Natsir (2009 : 30) mengemukakan
bahwa : pemahaman berkenaan
dengan inti sari dari sesuatu, yaitu suatu bentuk pengertian yang menyebabkan
seseorang mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat menggunakan
materi itu tanpa harus menghubungkannya dengan materi lain. Pemahaman dapat
dibedakan atas :
- Translasi, yaitu kemampuan untuk memahami suatu materi atau ide yang dinyatakan dengan cara asli yang di kenal sebelumnya.
- Interpretasi, yaitu kemampuan untuk memahami suatu materi atau ide yang direkam, di ubah, atau di susun dalam bentuk lain (grafik, tabel, atau diagram).
- Ekstrapolasi, yaitu kemampuan untuk meramalkan kelanjutan kecenderungan yang ada menurut data tertentu dengan mengemukakan akibat, konsekuensi, implikasi, dan sebagainya sejalan dengan kondisi yang digambarkan dalam komunikasi yang ada.
Dalam
proses pengembangan instrumen pembelajaran, kata-kata operasional yang cocok untuk tujuan pemahaman
antara lain adalah menjelaskan, memperkirakan, mengubah, membedakan,
mencontohkan dan membandingkan. Pada umumnya pertanyaan pemahaman konsep
diajukan dengan tujuan agar siswa dapat mengiterpretasikan bahan informasi, kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk yang lain. Perlu diingat bahwa informasi
yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pemahaman, harus diberikan
kepada siswa semisal, uraikan, bandingkan dan perjelas, karena pemahaman melibatkan proses mental sehingga
sifatnya dinamis.
Semoga Bermanfaat
Ijin dikomentari agar tercipta suasana transfer ide dan kritikan yang lebih baik
Pengembangan Pendekatan Pembelajaran Konseptual Interaktif
Posted by Unknown
Tag :
Pengantar Pembelajaran
Dalam rangka inovasi pengajaran fisika telah dikembangkan suatu pendekatan pembelajaran fisika yang disebut Pendekatan Pembelajaran Konseptual Interaktif (ICI). Pendekatan ini memiliki ciri utama menekankan pada penanaman konsep terlebih dahulu diawal proses pengajaran, dan menggunakan sistem kolaborasi dalam kelompok kecil, menggunakan metode demonstrasi, dan mengutamakan diskusi yang nantinya diharapkan mampu memotivasi siswa sehingga berimpilikasi pada penguasaan konsep dan kemampuan komunikasi siswa.
Pendekatan pembelajaran ini adalah salah satu alternatif pembelajaran perubahan konseptual yang berbasis konstruktivistik. ICI yang dikembangkan oleh Savinainen dan Scott (2002) sangat mendukung perkembangan keterampilan berpikir siswa dimulai dari tingkatan pemahaman konsep yang memerlukan suatu proses interaktif yang memberi peluang mengembangkan gagasan melalui proses dialog dan berpikir. (Santyasa, dkk. 2004)
Sistem tradisional telah mendefiniskan bahwa berpikir yang baik adalah sebagai suatu masalah kemampuan kognitif atau keterampilan berpikir. Maka kini kita memiliki dua istilah: “kemampuan kognitif” dan “keterampilan berpikir”. Kemampuan kognitif akan dipengaruhi oleh pola berpikir, atau suatu kumpulan persepsi yang dibentuk dari pengalaman atau pelajaran masa lalu. Keterampilan berpikir merupakan kemampuan untuk menggunakan kumpulan pola berpikir. Dengan meningkatkan kemampuan kedua macam berpikir tersebut maka, seseorang akan dapat menjadi Pemikir yang baik.
Edward De Bones (1982 : 10-14) mendefenisikan berpikir sebagai bagian dari keterampilan operasi intelejensi yang bertindak atas pengalaman (untuk suatu tujuan). Defenisi ini lebih memfokuskan pada tiga unsur yaitu keterampilan operasi, intelegensi dan pengalaman. De Bones menyatakan bahwa pemikir adalah tujuan dan lebih menekankan konstruktivitas daripada kritikan. Tujuan pemikiran adalah untuk mencapai pemahaman yang lebih baik, keputusan atau tindakan yang di lakukan adalah bagian dari proses penghargaan terhadap ide dan bukan untuk membuktikan bahwa kita lebih pintar dibandingkan orang lain.
“The thinker treats thinking as a skill worth both practising and observing. He is able to think about thinking in general and his own thinking in particular. He is objective, and notes where his thinking is being less than effective. He is conscious of what needs doing even when he cannot do it. He surveys the thinking of others:not to find fault but as a map-maker might survey the tetrain. He is constructive rather than critical, and supposes that the purpose of thinking is to reach the better understanding, decision or course of action:not to prove that he is smarter than someone else. He appreciates an idea just as he might appreciate a beautiful flower, no matter in whose garden it may be growing”
Edward de Bones kemudian membagi pola berpikir menjadi dua yaitu kemampuan berpikir vertikal dan kemampuan berpikir lateral. Berpikir vertikal adalah pola berpikir logis konvensional yang selama ini kita kenal dan umum dipakai. Pola berpikir ini dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada, untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah, dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal. Sedangkan berpikir lateral tetap menggunakan berbagai fakta yang ada, menentukan hasil akhir apa yang diinginkan, dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut.
Berpikir lateral sebagai metode berpikir yang memperhatikan masalah perubahan konsep dan persepsi. Sehingga perpikir lateral merupakan salah satu langkah untuk dapat berpikir secara lebih terbuka, fleksibel, dan kreatif terhadap rangsangan dari lingkungan sekitar. Dalam teori ini dikenalkan operasi PO. Operasi ini merupakan kependekan dari provocative operation, yaitu suatu operasi yang memprovokasi ide selanjutnya. PO digunakan untuk mengusulkan ide yang tidak harus merupakan solusi atau ide yang ‘baik’, tetapi mendorong untuk berpikir ke tempat baru dimana ide bisa dihasilkan.
Pendekatan Pembelajaran konseptual interaktif (ICI) merupakan landasan pembelajaran keterampilan berpikir. Pendekatan ini terdiri atas empat tahapan yang tidak dapat dipisahkan, diantaranya 1). Conceptual focus, 2). Classroom interaction, 3). Research-based materials, dan 4). Use of texts. Dalam implementasinya, keempat komponen ini membentuk pembelajaran yang utuh.
Conceptual Focus
Yaitu pengembangan ide-ide baru yang berfokus pada pemahaman konseptual dengan sedikit atau bahkan tanpa formulasi matematik. Pada tahap ini, pembelajaran dimulai dengan pendemonstrasian fenomena-fenomena yang berkaitan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari.
Classroom Interaction
Merupakan tahapan model ICI yang kedua. Pada tahapan ini dilibatkan interaksi-interaksi kelas. Siswa dibentuk menjadi kelompok-kelompok yang heterogen. Tahapan ini didasari premis bahwa pembuatan makna merupakan dialog antar komunitas kelas untuk mengembangkan gagasan melalui proses berpikir. Dalam interaksi kelas, terjadi pembelajaran yang melibatkan teman sebaya.
Research-Based Materials.
Pertanyaan dan jawaban pada tahap Conceptual focus digunakan dalam pembuatan makna. Ulangan berbasis penelitian berfungsi mengembangkan pemahaman siswa. Ulangan berbasis penelitian juga merupakan alat diagnostik, yaitu asesmen yang dapat mengukur pemahaman siswa. Tahapan ini dapat berfungsi sebagai acuan dalam pembelajaran lebih lanjut.
Use of Texts.
Penggunaan buku teks dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman siswa secara lebih mendalam. Belajar dengan menggunakan buku teks dapat melibatkan siswa dalam proses berpikir, keterampilan berpikir kritis dan kreatif, keterampilan berpikir inti, dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh melalui diskusi dengan pengetahuan yang didapat pada buku.
Semoga Bermanfaat
Ijin dikomentari agar tercipta suasana transfer ide dan kritikan yang lebih baik
Semua
model pengajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan
struktur penghargaan (reward).
Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembelajaran itu
diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam kelas. Hal
ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran dengan kelompok kecil,
di mana siswa diharapkan melakukan sesuatu selama pengajaran itu, baik tuntutan
akademik maupun sosial terhadap siswa pada saat mereka bekerja menyelesaikan
tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.
Struktur tugas berbeda sesuai dengan berbagai macam
kegiatan yang dilaksanakan di dalam pendekatan pengajaran tertentu. Sebagai
contoh, beberapa pelajaran membolehkan siswa
duduk pasif sambil menerima informasi dari ceramah guru; pelajaran lain
menghendaki siswa mengerjakan LKS dan pelajaran lain lagi menghendaki diskusi
dan berdebat. Struktur tujuan suatu pelajaran adalah saling ketergantungan yang
dibutuhkan siswa pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. Terdapat tiga macam
struktur tujuan yang telah berhasil diidentifikasi. Struktur tujuan disebut individualistic, jika
pencapaian tujuan itu tidak memerlukan interaksi dengan orang lain dan tidak
bergantung pada baik-buruknya pencapaian orang lain. Siswa yakin upaya mereka
sendiri untuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya dengan upaya siswa lain
dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian setiap usaha yang dilakukan
oleh suatu individu untuk mencapai tujuan merupakan saingan bagi individu
lainnya.
Struktur tujuan
kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan
mereka dengan siapa mereka bekerjasama mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap
individu ikut andil menyumbang pencapaian tujuan itu. Tujuan kelompok akan
tercapai apabila semua anggota kelompok mencapai tujuannya secara bersama-sama.
Struktur penghargaan untuk berbagai macam model
pembelajaran juga bervariasi. Seperti halnya struktur tujuan yang dapat
diklasifikasi menjadi individualistik dan kooperatif. Struktur penghargaan
individualistik terjadi bila suatu penghargaan itu bisa dicapai oleh siswa
manapun tidak bergantung pada pencapaian individu lain, sedangkan struktur
penghargaan kooperatif sebaliknya, yakni situasi di mana upaya individu
membantu individu lain mendapat penghargaan menggunakan struktur penghargaan
kooperatif.
Pengorganisasian pembelajaran kooperatif dicirikan oleh
struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja dalam
situasi pembelajaran kooperatif didorong dan dikendalikan untuk bekerja sama
pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk
menyelesaikan tugasnya. Terdapat tiga langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang
menggunakan pembelajaran kooperatif. Pelajaran
dimulai dengan (1) guru
menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini
diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan daripada
secara verbal. Selanjutnya (2) siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini
diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan
tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi (3) presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi
tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap
usaha-usaha kelompok maupun individu.
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model
pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip Konstruktivisme dari Vygotsky,
yang menganggap bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep
yang sulit, jika mereka
saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Pembelajaran
kooperatif mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam
kelompok kecil yang saling membantu dalam belajar. Dalam
Solihatin (2007: 4), Slavin menyatakan bahwa, pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4
sampai 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Untuk
mencapai tujuan pembelajaran ditawarkan berbagai pendekatan maupun metode yang
bisa diterapkan oleh guru selama pembelajaran berlangsung.
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya
di Universitas John Hopkin, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif
yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar
kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu
menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu
dipecah menjadi kelompok, haruslah
heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku,
memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar
kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi
pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan
pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau setiap 2 minggu siswa
diberi kuis. Kuis itu di skor, dan tiap individu diberi skor perkembangan.
Semoga Bermanfaat
Ijin dikomentari agar tercipta suasana transfer ide dan kritikan yang lebih baik
Pembahasan mengenai Fisika,
diawali dengan pengertian, sumber-sumber pengetahuan, ilmu pengetahuan dan ilmu
pengetahuan alam, sehingga dapat diperoleh suatu kejelasan akan batasan-batasan
dari hal tersebut. Agus Martawijaya (2004 :1-2) mengemukakan
bahwa pengetahuan adalah segala
sesuatu yang diketahuai oleh seseorang tanpa menghiraukan benar atau salahnya
serta dari mana datangnya. Suatu pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai
sumber, diantaranya panca indera, pikiran dan wahyu para nabi/rasul serta
intuisi manusia yang merupakan gabungan antara pikiran dan perasaan. Sementara
ilmu pengetahuan merupakan bagian dari pengetahuan yang kemudian telah teruji
kebenarannya. Kebenaran yang dimaksudkan adalah 1). Kebenaran ilmu, yaitu benar
secara deduktif maupun induktif, 2). Kebenaran filosofis, yang berdasar pada
logika atau rasio, 3). Kebenaran pragmatis, dimana suatu pernyataan dapat
dianggap benar jika ia berfungsi dan atau berefek secara praktis.
Dari uraian tersebut, maka
dapat diperoleh pemahaman bahwa ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu
pengetahuan yang obyeknya adalah alam dengan segala isinya yang berupa
benda-benda konkret. Secara harfiah, ilmu pengetahuan alam (IPA) berasal dari
bahasa Inggris ”Science” yang berarti ilmu mengenai alam atau ilmu yang
mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.
Dalam Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA), fakta (hasil observasi) memegang peranan yang sangat penting. Hal ini
sesuai dengan yang dikemukakan oleh Fisher bahwa IPA adalah sekumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui
metode-metode yang berdasarkan observasi. Selain itu, Einstein mengemukakan
bahwa IPA bermula dari fakta dan berakhir pada fakta. Batasan lain yang
sifatnya lebih spesifik dikemukakan oleh Athur A.Carin yang menyatakan bahwa
IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, dalam
penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.
Selain itu, Agus
Martawijaya (2004 :4)
menjelaskan bahwa dari batasan tersebut,
maka IPA memiliki tiga makna yaitu : 1) IPA terdiri atas beberapa disiplin ilmu
(Fisika, Biologi, Kimia, Geologi, Geofisik dan Astronomi), 2) IPA adalah
sekumpulan pengetahuan yang mencakup fakta, konsep, hipotesis, azas, teori, dan
hukum yang telah dirumuskan oleh para ilmuan melalui proses ilmiah dan, 3) Pengetahuan dalam IPA diperoleh melalui
metode ilmiah sehingga memenuhi ciri keilmuan.
Perlunya Media Berbasis Komputer Pada Pembelajaran Fisika
Tuesday, December 18, 2012
Posted by Unknown
Tag :
Pengantar Pembelajaran
Pendidikan
formal merupakan salah satu jalur
pendidikan yang terstruktur dan berjenjang. Terdiri dari pendidikan formal
berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta. Tercapainya tujuan
pendidikan secara menyeluruh tidak lepas dari peran dan fungsi sekolah sebagai
bagian dari pendidikan formal tersebut. Sekolah merupakan tempat pengembangan kurikulum, yang
meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran yang tersusun secara
sistematis, strategi pembelajaran dan sistem evaluasi yang berperan untuk
mengetahui sejauh mana tujuan itu tercapai. Sehingga untuk mengembangkan
potensi peserta didik dalam kuantitas yang besar sambil mempertahankan kualitas
pendidikan, bukanlah tugas yang mudah namun diperlukan
tindakan nyata yang komprehensip dan terpadu. Usaha peningkatan tersebut tentunya tidak lepas dari
peningkatan kualitas tenaga pendidik itu sendiri. Peningkatan kualitas tenaga
pendidik mutlak diperlukan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta tuntutan perkembangan pembangunan yang membutuhkan
tenaga-tenaga terampil, kreatif dalam disiplin keilmuannya.
Fisika
merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu dianggap momok bagi siswa,
ketakutan akan banyaknya rumus-rumus membuat hilangnya motivasi belajar siswa
pada mata pelajaran ini. Begitu pula dengan matematika, dengan implementasi dan
penggunaan metode yang tidak tepat, mampu berpengaruh besar pada kecenderungan
dan minat belajar siswa pada matematika. Begitu banyak alternative yang dapat
diterapkan untuk mengubah paradigma negative tersebut dikalangan siswa, contohnya
saja dengan menggunakan media berbasis komputer sebagai salah satu instrument
yang dapat menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kemauan siswa sehingga mampu mendorong proses belajarnya. Dengan
demikian, sangat bermanfaat untuk siswa dan tentunya para guru pun termotivasi
untuk mengembangkan ilmu komputer yang dimilikinya. Sehingga memberikan efek
yang baik dan beresensi pada hasil pengalaman belajar siswa yang tentunya akan
lebih interaktif dalam kelas dan menambah pengetahuan serta pemahaman konsep Fisika siswa itu sendiri.
Hamalik
(1986) dan Azhar
Arsyad (2002) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses
belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan pembelajaran dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran akan
sangat membantu efektifitas proses pembelajaran serta penyampaian pesan dan isi
pelajaran sehingga dapat membantu siswa meningkatkan pemahamannya, karena menyajikan informasi secara menarik dan terpercaya.
Selain itu media pembelajaran juga dapat memudahkan penafsiran data dan
memadatkan informasi. Hal ini memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran,
yang pada akhirnya dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa.
Beberapa konsep dalam Fisika, pada dasarnya memerlukan
media untuk menjelaskan secara detail konsep tersebut. Misalnya : Listrik
Statis dan Listrik Dinamis, materi ini cukup banyak memiliki konsep yang
abstrak untuk siswa. Penggambaran arus listrik dalam suatu rangkaian, hukum Ohm
dan hukum Kirchoff tentunya membutuhkan media untuk menjadikannya lebih konkret dan memperjelas materi-materi yang memiliki
konsep yang abstrak. Semisal juga pada
materi impuls dan momentum, dengan menggunakan media berbasi computer, maka penggambaran interaksi besaran-besaran fisis pada
peristiwa tumbukan lebih
jelas, penyajian contoh-contoh penerapan konsep
impuls dan momentum yang pada awalnya hanya membuat siswa berkhayal, namun
dengan adanya media berbasis
komputer dapat membantu merubah konsep-konsep yang abstark menjadi lebih
konkret.