Showing posts with label Pengantar Pembelajaran. Show all posts


Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya: TV dan film. Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah pembelajaran interaktif, aplikasi game, dll.
Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktifitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsurunsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa. Dari uraian di atas, apabila kedua konsep tersebut kita gabungkan maka multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pilihan, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali.
Sutopo menjelaskan bahwa model media interaktif dalam banyak aplikasi, pengguna dapat memilih apa yang akan dikerjakan selanjutnya, bertanya, dan mendapatkan jawaban yang mempengaruhi komputer untuk mengerjakan fungsi selanjutnya. Model media interaktif mempunyai banyak aplikasi untuk menampilkan berbagai animasi dan simulasi, dalam hal ini simulasi dan animasi dalam konsep fisika. Siswa akan sangat tertolong dengan model media interaktif  dalam memahami konsep yang abstrak. Karena media dapat membuat konsep yang bersifat abstrak tersebut menjadi lebih konkrit. Selanjutnya konsep yang sudah konkrit tersebut akan membuat siswa jadi lebih bermakna dalam pembelajarannya.
Model Pembelajaran dengan media dapat digunakan dalam pengajaran dan pembelajaran fisika sebagai:
  • Laboratorium Virtual melalui modeling dan presentasi fenomena dan proses.
  • Ruang belajar yang ekspresif dimana siswa dapat mendemonstrasikan ide-ide mereka, memprediksi, menurunkan hukum fisika dan menyelesaikan soal-soal.
Format sajian multimedia interaktif dapat dikategorikan kedalam lima kelompok sebagai berikut :
a. Tutorial
Format sajian ini merupakan multimedia pembelajaran yang dalam penyampaian materinya dilakukan secara tutorial, sebagaimana layaknya tutorial yang dilakukan oleh guru atau instruktur. Informasi yang berisi suatu konsep disajikan dengan teks, gambar, baik diam atau bergerak dan grafik. Pada saat yang tepat, yaitu ketika dianggap bahwa pengguna telah membaca, menginterpretasikan dan menyerap konsep itu, diajukan serangkaian pertanyaan atau tugas. Jika jawaban atau respon pengguna benar, kemudian dilanjutkan dengan materi berikutnya. Jika jawaban atau respon pengguna salah, maka pengguna harus mengulang memahami konsep tersebut secara keseluruhan ataupun pada bagian-bagian tertentu saja (remedial). Kemudian pada bahagian akhir biasanya akan diberikan serangkaian pertanyaaan yang merupakan tes untuk mengukur tingkat pemahaman pengguna atas  konsep atau materi yang disampaikan.
b. Drill dan Parctise
Format ini dimaksudkan untuk melatih pengguna sehingga mempunyai kemahiran di dalam suatu keterampilan atau memperkuat penguasaan terhadap suatu konsep. Program ini juga menyediakan serangkaian soal atau pertanyaan yang biasanya ditampilkan secara acak, sehingga setiap kali digunakan maka soal atau pertanyaan yang tampil akan selalu berbeda, atau paling tidak dalam kombinasi yang berbeda.
Program ini juga dilengkapi dengan jawaban yang benar, lengkap dengan penjelasannya sehingga diharapkan pengguna akan bisa pula memahami suatu konsep tertentu. Pada bahagian akhir, pengguna juga bisa melihat skor akhir yang dia capai, sebagai indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam memecahkan soal-soal yang diajukan.
c. Simulasi
Bentuk pengajaran dengan komputer ini dimaksudkan untuk memberikan simulasi pada suatu keadaan khusus, atau sistem di mana siswa dapat berinteraksi. Siswa dapat menyebut informasi, sehingga dapat sampai pada jawabannya, karena mereka berpikir sehat, mencobakan interpretasinya dari prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Komputer akan menceritakan pada siswa apakah dampak dari keputusannya, terutama tentang reaksi dari kritikan atau pendapatnya. Pada dasarnya format ini berusaha memberikan pengalaman masalah “dunia nyata” yang berhubungan dengan resiko.
d. Percobaan dan Eksperimen
Format ini mirip dengan format simulasi, namun lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat eksperimen, seperti kegiatan praktikum di laboratorium IPA, biologi atau kimia. Program menyediakan serangkaian peralatan dan bahan, kemudian pengguna bisa melakukan percobaan atau eksperimen sesuai petunjuk dan kemudian pengembangkan eksperimen-eksperimen lain berdasarkan petunjuk tersebut. Diharapkan pada akhirnya pengguna dapat menjelaskan suatu konsep atau fenomena tertentu berdasarkan eksperimen yang mereka lakukan secara maya tersebut.
e. Permainan
Tentu saja bentuk permaianan yang disajikan disini tetap mengacu pada proses pembelajaran dan dengan program multimedia berformat ini diharapkan terjadi aktifitas belajar sambil bermain. Dengan demikian pengguna tidak merasa bahwa mereka sesungguhnya sedang belajar


Perkembangan zaman dapat ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Karena itu dalam proses pembelajaran perlu juga dikembangkan cara-cara mengajar yang baru pula, di antaranya ialah cara mengajar dengan mempergunakan komputer. Metode mengajar ini dikembangkan karena pertama-tama sudah jelas pada kehidupan modern di masa depan, komputer merupakan suatu alat yang penting. Dengan bantuan komputer dapat diajarkan cara-cara mencari inforamsi baru, yaitu dengan menyeleksi dan mengolah pertanyaan, sehingga terdapat jawaban terhadap suatu pertanyaan itu. Roestiyah (2001) menjelaskan bahwa secara teori, komputer mempunyai kekuatan keahlian yang lebih daripada seorang guru, karena komputer dapat:
  • Menyimpan beberapa informasi
  • Memilih informasi tersebut dengan kecepatan yang tinggi
  • Menyajikan pada siswa dengan tanda diagram yang menantang
  • Memberi jawaban tipe kebutuhan siswa
  • Memberi umpan balik kepada siswa secara individual secepatnya
  • Memberikan informasi yang berbedaan dengan siswa yang berbeda pula.
Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan computer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran
Dibalik kehandalan komputer sebagai media pembelajaran terdapat beberapa persoalan yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan awal bagi pengelola pengajaran berbasis computer, sebagai berikut :
  1. Perangkat keras dan lunak yang mahal dan cepat ketinggalan zaman
  2. Teknologi yang sangat cepat berubah, sangat memungkinkan perangkat yang dibeli saat ini beberapa tahun kemudian akan ketinggalan zaman.
  3. Pembuatan program yang rumit serta dalam pengoperasian awal perlu pendamping guna menjelaskan penggunaannya. Hal ini bisa disiasati dengan pembuatan modul pendamping yang menjelaskan penggunaan dan pengoperasian program.


Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata ”medium”, batasan mengenai pengertian media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan dalam pembelajaran. 
Pertanyaan yang sering muncul adalah mempertanyakan pentingnya media dalam sebuah pembelajaran. Sebelumnya, kita harus mengetahui terlebih dulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran. Karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun nonverbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding. 
Dalam penafsiran tersebut ada kalanya berhasil, dan ada kalanya tidak berhasil atau gagal. Dengan kata lain dapat dikatakan kegagalan atau  ketidakberhasilan dalam memahami apa yang didengar, dibaca, dilihat atau diamati. Kegagalan atau ketidakberhasilan itu disebabkan oleh gangguan yang menjadi penghambat komunikasi yang dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Semakin banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima. Lantas dimana fungsi media? Ada baiknya kita melihat diagram Dale’s Cone of Experience dari Edgar Dale (1969) yang secara jelas memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam pendidikan : 
Menurut Bruner (1966) ada tiga tingkatan utama dalam modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial/gambar (iconic) dan pengalaman abstrak (symbolic). Kerucut pengalaman diatas merupakan elaborasi yang rinci dari ketiga tingkatan tersebut. Hasil belajar seseorang diperoleh dari pengalaman langsung (kongkret), kenyataan yang ada dilingkungan kemudian melalui benda tiruan sampai pada lambang verbal (abstrak). Hal ini tidak menjadi sebuah parameter bahwa setiap interaksi belajar mengajar harus dimulai dari pengalaman langsung, melainkan dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajarnya. 
Secara umum dapat dikatakan media mempunyai kegunaan, antara lain:
  1. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
  3. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
  4. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.
  5. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama.


Model Pembelajaran CLIS

Wednesday, December 19, 2012
Posted by Unknown
Pembelajaran merupakan suatu proses  interaksi  peserta  didik dengan pendidik dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar yang  dilakukan secara  aktif. Proses pembelajaran di  kelas seharusnya  sudah mengarah kepada  peran aktif siswa (student centered).  Pembelajaran yang  bersifat student  centered menggunakan teori  belajar   konstruktivistik yang  membantu siswa  untuk membentuk kembali, atau mentransformasi informasi  baru sehingga  menghasilkan suatu kreasi pemahaman baru. Salah satu alternatif model  pembelajaran yang  berlandaskan paradigma konstruktivistik adalah Children Learning in Science (CLIS).

Model CLIS dikemukakan oleh Driver di Inggris. Children’s Learning In Science (CLIS) berarti anak belajar dalam sains. Sciences dalam bahasa Indonesia ditulis sains atau Ilmu Pengetahuan Alam, didefinisikan sebagai suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangannya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah (Rohadi, 2001). Conant dalam Subiyanto (1990), mendefinisikan sains sebagai bangunan konsep yang saling berhubungan sebagai hasil dari eksperimen dan observasi. Sedangkan menurut Fisher dalam Riyanto (2000), sains adalah bangunan pengetahuan yang diperoleh menggunakan metode berdasarkan observasi, dengan adanya konsep-konsep baru tersebut kemudian akan mendorong dilakukannya eksperimen.

Berdasarkan definisi sains dapat diketahui bahwa ada dua aspek yang penting dari sains yaitu proses sains dan produk sains. Proses sains adalah metode, prosedur dan cara-cara untuk menyelidiki dan memecahkan masalah-masalah sains. Sedangkan produk sains adalah hasil dari proses berupa fakta, prinsip, konsep dan hukum sains (Claxton, 1991 dalam Riyanto, 2000). Unsur Sains meliputi proses, sikap dan produk, maka pembelajaran sains hendaknya dapat melibatkan siswa dengan ketiga unsur tersebut. Artinya tidak menekankan pada salah satu unsur dan mengabaikan unsur lain, melalui keterlibatan ini siswa diharapkan memiliki sikap ilmiah (jujur, teliti, ulet, tekun dan disiplin).

Dari beberapa penelitian sebelumnya, mengungkapkan bahwa pengaruh model pembelajaran CLIS  pada  pokok bahasan tertentu dapat meningkatkan pemahaman konsep  siswa. Kajian lain menyimpulkan bahwa  terdapat  peningkatan hasil  belajar siswa pada ranah kognitif, efektif, dan psikomotor setelah diimplementasikan model  CLIS  yang telah dikembangkan.
Model     Pembelajaran Clis Dengan Menggunakan Media Pembelajaran
Children Learning in Science (CLIS) merupakan model pembelajaran yang mempunyai  karakteristik yang dilandasi paradigma konstruktivisme dengan memperhatikan pengetahuan awal siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa melalui aktivitas hands on/ minds on.
Model pembelajaran CLIS memiliki karakteristik :
  1. Dilandasi oleh pandangan konstruktivisme.
  2. Pembelajaran berpusat pada siswa.
  3. Melakukan aktivitas hands-on/ mind-on
  4. Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar.

Model Pembelajaran CLIS memiliki lima tahapan yaitu :
  1. Orientasi. Guru memusatkan perhatian siswa  terhadap materi  yang  akan dipelajari berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
  2. Pemunculan gagasan. Guru memunculkan konsepsi  awal siswa.
  3. Penyusunan gagasan ulang, dengan melalui  langkah sebagai berikut: (a) Pengungkapan dan pertukaran gagasan ; siswa  membentuk kelompok kecil, dan melakukan diskusi pengamatan dari tahap pemunculan gagasan. (b) Pembukaan situasi dan konflik ; Siswa  mencari pengertian ilmiah yang sedang dipelajari. Siswa mencari beberapa perbedaan antara konsepsi awal mereka dengan konsepsi ilmiah. (c) Konstruksi gagasan baru dan evaluasi ; Mengevaluasi  gagasan yang  sesuai  dengan materi  yang sedang dipelajari untuk mengkonstruksi gagasan baru.
  4. Penerapan gagasan. Setiap kelompok diberi pengamatan dan percobaan baru yang  lebih kompleks  tetapi  memiliki keterkaitan dengan konsep yang sedang dipelajari. Sehingga pengetahuan siswa menjadi bertambah dan berkembang.
  5. Mengkaji  ulang  perubahan gagasan. Guru memperkuat konsep ilmiah yang diperoleh siswa.
Penggunaan media pembelajaran pada model CLIS dimaksudkan sebagai  alat bantu ajar yang mendampingi guru agar siswa lebih mudah memahami sesuatu dari materi yang diajarkan.


Semoga Bermanfaat
Silahkan dikomentari agar terjadi transfer saran dan kritikan yang saling membangun




Konsep belajar juga dikenal sebagai kategori pembelajaran dan pencapaian konsep, sebagian besar didasarkan pada karya-karya psikolog kognitif Jerome Bruner. Bruner, Goodnow, & Austin (1967) pencapaian konsep yang didefinisikan (atau belajar konsep) sebagai "pencarian dan daftar atribut yang dapat digunakan untuk membedakan eksamplar dan non eksamplar dari berbagai kategori. Lebih sederhananya, konsep kategori mental yang membantu kita mengklasifikasikan benda-benda, peristiwa, atau ide-ide dan masing-masing objek, peristiwa, atau ide memiliki seperangkat fitur yang relevan.
Dengan demikian, konsep pembelajaran merupakan strategi yang mengharuskan seorang pelajar untuk membandingkan kelompok kontras dan atau kategori yang berisi fitur-konsep yang relevan dengan kelompok atau kategori yang tidak berisi fitur-konsep yang relevan. (Bruce Joice dkk, 1980 :37)
Kemampuan pemahaman konsep dalam pembelajaran fisika adalah tingkat kemampuan yang menuntut siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini, siswa tidak hanya hapal secara verbal, tetapi mengerti atau paham terhadap konsep atau fakta yang dinyatakannya.
Selanjutnya, Agus Martawijaya dan Muhammad Natsir (2009 : 30) mengemukakan  bahwa  : pemahaman berkenaan dengan inti sari dari sesuatu, yaitu suatu bentuk pengertian yang menyebabkan seseorang mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat menggunakan materi itu tanpa harus menghubungkannya dengan materi lain. Pemahaman dapat dibedakan atas :

  1. Translasi, yaitu kemampuan untuk memahami suatu materi atau ide yang dinyatakan dengan cara asli yang di kenal sebelumnya.
  2. Interpretasi, yaitu kemampuan untuk memahami suatu materi atau ide yang direkam, di ubah, atau di susun dalam bentuk lain (grafik, tabel, atau diagram).
  3. Ekstrapolasi, yaitu kemampuan untuk meramalkan kelanjutan kecenderungan yang ada menurut data tertentu dengan mengemukakan akibat, konsekuensi, implikasi, dan sebagainya sejalan dengan kondisi yang digambarkan  dalam komunikasi yang ada.
Dalam proses pengembangan instrumen pembelajaran, kata-kata operasional yang cocok untuk tujuan pemahaman antara lain adalah menjelaskan, memperkirakan, mengubah, membedakan, mencontohkan dan membandingkan. Pada umumnya pertanyaan pemahaman konsep diajukan dengan tujuan agar siswa dapat mengiterpretasikan bahan informasi, kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk yang lain. Perlu diingat bahwa informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pemahaman, harus diberikan kepada siswa semisal, uraikan, bandingkan dan perjelas, karena pemahaman melibatkan proses mental sehingga sifatnya dinamis.


Semoga Bermanfaat
Ijin dikomentari agar tercipta suasana transfer ide dan kritikan yang lebih baik


Dalam rangka inovasi pengajaran fisika telah dikembangkan suatu pendekatan pembelajaran fisika yang disebut Pendekatan Pembelajaran  Konseptual Interaktif (ICI). Pendekatan ini memiliki ciri utama menekankan pada penanaman konsep terlebih dahulu diawal proses pengajaran, dan menggunakan sistem kolaborasi dalam kelompok kecil, menggunakan metode demonstrasi, dan mengutamakan diskusi yang nantinya diharapkan mampu memotivasi siswa sehingga berimpilikasi pada penguasaan konsep dan kemampuan komunikasi siswa.
Pendekatan pembelajaran ini adalah salah satu alternatif pembelajaran perubahan konseptual yang berbasis konstruktivistik. ICI yang dikembangkan oleh Savinainen dan Scott (2002) sangat mendukung perkembangan keterampilan berpikir siswa dimulai dari tingkatan pemahaman konsep yang memerlukan suatu proses interaktif yang memberi peluang mengembangkan gagasan melalui proses dialog dan berpikir. (Santyasa, dkk. 2004)
Sistem tradisional telah mendefiniskan bahwa berpikir yang baik adalah sebagai suatu masalah kemampuan kognitif atau keterampilan berpikir. Maka kini kita memiliki dua istilah: “kemampuan kognitif” dan “keterampilan berpikir”. Kemampuan kognitif akan dipengaruhi oleh pola berpikir, atau suatu kumpulan persepsi yang dibentuk dari pengalaman atau pelajaran masa lalu. Keterampilan berpikir merupakan kemampuan untuk menggunakan kumpulan pola berpikir. Dengan meningkatkan kemampuan kedua macam berpikir tersebut maka, seseorang akan dapat menjadi Pemikir yang baik.
Edward De Bones (1982 : 10-14) mendefenisikan berpikir sebagai bagian dari keterampilan operasi intelejensi yang bertindak atas pengalaman (untuk suatu tujuan). Defenisi ini lebih memfokuskan pada tiga unsur yaitu keterampilan operasi, intelegensi dan pengalaman. De Bones menyatakan bahwa pemikir adalah tujuan dan lebih menekankan konstruktivitas daripada kritikan. Tujuan pemikiran adalah untuk mencapai pemahaman yang lebih baik, keputusan atau tindakan yang di lakukan adalah bagian dari proses penghargaan terhadap ide dan bukan untuk membuktikan bahwa kita lebih pintar dibandingkan orang lain.

“The thinker treats thinking as a skill worth both practising and observing. He is able to think about thinking in general and his own thinking in particular. He is objective, and notes where his thinking is being less than effective. He is conscious of what needs doing even when he cannot do it. He surveys the thinking of others:not to find fault but as a map-maker might survey the tetrain. He is constructive rather than critical, and supposes that the purpose of thinking is to reach the better understanding, decision or course of action:not to prove that he is smarter than someone else. He appreciates an idea just as he might appreciate a beautiful flower, no matter in whose garden it may be growing”

Edward de Bones kemudian membagi pola berpikir menjadi dua yaitu kemampuan berpikir vertikal dan kemampuan berpikir lateral. Berpikir vertikal adalah pola berpikir logis konvensional yang selama ini kita kenal dan  umum dipakai. Pola  berpikir  ini  dilakukan  secara  tahap  demi  tahap berdasarkan  fakta yang ada,  untuk  mencari  berbagai  alternatif pemecahan masalah, dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal. Sedangkan berpikir lateral tetap menggunakan berbagai fakta yang ada, menentukan hasil akhir apa yang diinginkan, dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut.
Berpikir lateral sebagai metode berpikir yang memperhatikan masalah perubahan konsep dan persepsi. Sehingga perpikir lateral merupakan salah satu langkah untuk dapat berpikir secara lebih terbuka, fleksibel, dan kreatif terhadap rangsangan dari lingkungan sekitar. Dalam teori ini dikenalkan operasi PO. Operasi ini merupakan kependekan dari provocative operation, yaitu suatu operasi yang memprovokasi ide selanjutnya. PO digunakan untuk mengusulkan ide yang tidak harus merupakan solusi atau ide yang ‘baik’, tetapi mendorong untuk berpikir ke tempat baru dimana ide bisa dihasilkan. 
Pendekatan Pembelajaran konseptual interaktif (ICI) merupakan landasan pembelajaran keterampilan berpikir. Pendekatan ini terdiri atas empat tahapan yang tidak dapat dipisahkan, diantaranya 1). Conceptual focus, 2). Classroom interaction, 3). Research-based  materials,  dan 4). Use of texts. Dalam implementasinya, keempat komponen ini membentuk pembelajaran yang utuh.
Conceptual Focus 
Yaitu pengembangan ide-ide baru yang berfokus pada pemahaman konseptual dengan sedikit atau bahkan tanpa formulasi matematik. Pada tahap ini, pembelajaran dimulai dengan pendemonstrasian fenomena-fenomena yang berkaitan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari.
Classroom Interaction
Merupakan tahapan model ICI yang kedua. Pada tahapan ini dilibatkan interaksi-interaksi kelas. Siswa dibentuk menjadi kelompok-kelompok yang heterogen. Tahapan ini didasari premis bahwa pembuatan makna merupakan dialog antar komunitas kelas untuk mengembangkan gagasan melalui proses berpikir. Dalam interaksi kelas, terjadi pembelajaran yang melibatkan teman sebaya.
Research-Based Materials. 
Pertanyaan dan jawaban pada tahap Conceptual focus digunakan dalam pembuatan makna. Ulangan berbasis penelitian berfungsi mengembangkan pemahaman siswa. Ulangan berbasis penelitian juga merupakan alat diagnostik, yaitu asesmen yang dapat mengukur pemahaman siswa. Tahapan ini dapat berfungsi sebagai acuan dalam pembelajaran lebih lanjut.
Use of Texts. 
Penggunaan buku teks dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman siswa secara lebih mendalam. Belajar dengan menggunakan buku teks dapat melibatkan siswa dalam proses berpikir, keterampilan berpikir kritis dan kreatif, keterampilan berpikir inti, dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh melalui diskusi dengan pengetahuan yang didapat pada buku.



Semoga Bermanfaat
Ijin dikomentari agar tercipta suasana transfer ide dan kritikan yang lebih baik

Semua model pengajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward). Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembelajaran itu diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran dengan kelompok kecil, di mana siswa diharapkan melakukan sesuatu selama pengajaran itu, baik tuntutan akademik maupun sosial terhadap siswa pada saat mereka bekerja menyelesaikan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.

Struktur tugas berbeda sesuai dengan berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan di dalam pendekatan pengajaran tertentu. Sebagai contoh, beberapa pelajaran membolehkan siswa duduk pasif sambil menerima informasi dari ceramah guru; pelajaran lain menghendaki siswa mengerjakan LKS dan pelajaran lain lagi menghendaki diskusi dan berdebat. Struktur tujuan suatu pelajaran adalah saling ketergantungan yang dibutuhkan siswa pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. Terdapat tiga macam struktur tujuan yang telah berhasil diidentifikasi. Struktur tujuan disebut individualistic, jika pencapaian tujuan itu tidak memerlukan interaksi dengan orang lain dan tidak bergantung pada baik-buruknya pencapaian orang lain. Siswa yakin upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya dengan upaya siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian setiap usaha yang dilakukan oleh suatu individu untuk mencapai tujuan merupakan saingan bagi individu lainnya.  

Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka dengan siapa mereka bekerjasama mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang pencapaian tujuan itu. Tujuan kelompok akan tercapai apabila semua anggota kelompok mencapai tujuannya secara bersama-sama.


Struktur penghargaan untuk berbagai macam model pembelajaran juga bervariasi. Seperti halnya struktur tujuan yang dapat diklasifikasi menjadi individualistik dan kooperatif. Struktur penghargaan individualistik terjadi bila suatu penghargaan itu bisa dicapai oleh siswa manapun tidak bergantung pada pencapaian individu lain, sedangkan struktur penghargaan kooperatif sebaliknya, yakni situasi di mana upaya individu membantu individu lain mendapat penghargaan menggunakan struktur penghargaan kooperatif. 
     

Pengorganisasian pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan dikendalikan untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Terdapat tiga langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Pelajaran dimulai dengan (1) guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya (2) siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi (3) presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. 

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip Konstruktivisme dari Vygotsky, yang menganggap bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit, jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil yang saling membantu dalam belajar. Dalam Solihatin (2007: 4), Slavin menyatakan bahwa, pembelajaran kooperatif  merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat  heterogen. Untuk mencapai tujuan pembelajaran ditawarkan berbagai pendekatan maupun metode yang bisa diterapkan oleh guru selama pembelajaran berlangsung. 

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok, haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau setiap 2 minggu siswa diberi kuis. Kuis itu di skor, dan tiap individu diberi skor perkembangan.


Semoga Bermanfaat

Ijin dikomentari agar tercipta suasana transfer ide dan kritikan yang lebih baik

Pembahasan mengenai Fisika, diawali dengan pengertian, sumber-sumber pengetahuan, ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan alam, sehingga dapat diperoleh suatu kejelasan akan batasan-batasan dari hal tersebut. Agus Martawijaya (2004 :1-2)  mengemukakan bahwa pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahuai oleh seseorang tanpa menghiraukan benar atau salahnya serta dari mana datangnya. Suatu pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya panca indera, pikiran dan wahyu para nabi/rasul serta intuisi manusia yang merupakan gabungan antara pikiran dan perasaan. Sementara ilmu pengetahuan merupakan bagian dari pengetahuan yang kemudian telah teruji kebenarannya. Kebenaran yang dimaksudkan adalah 1). Kebenaran ilmu, yaitu benar secara deduktif maupun induktif, 2). Kebenaran filosofis, yang berdasar pada logika atau rasio, 3). Kebenaran pragmatis, dimana suatu pernyataan dapat dianggap benar jika ia berfungsi dan atau berefek secara praktis.

Dari uraian tersebut, maka dapat diperoleh pemahaman bahwa ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu pengetahuan yang obyeknya adalah alam dengan segala isinya yang berupa benda-benda konkret. Secara harfiah, ilmu pengetahuan alam (IPA) berasal dari bahasa Inggris ”Science” yang berarti ilmu mengenai alam atau ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.

Dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), fakta (hasil observasi) memegang peranan yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Fisher bahwa IPA adalah sekumpulan  pengetahuan yang diperoleh melalui metode-metode yang berdasarkan observasi. Selain itu, Einstein mengemukakan bahwa IPA bermula dari fakta dan berakhir pada fakta. Batasan lain yang sifatnya lebih spesifik dikemukakan oleh Athur A.Carin yang menyatakan bahwa IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.

Selain itu, Agus Martawijaya (2004 :4) menjelaskan bahwa dari batasan tersebut, maka IPA memiliki tiga makna yaitu : 1) IPA terdiri atas beberapa disiplin ilmu (Fisika, Biologi, Kimia, Geologi, Geofisik dan Astronomi), 2) IPA adalah sekumpulan pengetahuan yang mencakup fakta, konsep, hipotesis, azas, teori, dan hukum yang telah dirumuskan oleh para ilmuan melalui proses ilmiah dan,  3) Pengetahuan dalam IPA diperoleh melalui metode ilmiah sehingga memenuhi ciri keilmuan.

Pendidikan formal merupakan salah satu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang. Terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta. Tercapainya tujuan pendidikan secara menyeluruh tidak lepas dari peran dan fungsi sekolah sebagai bagian dari pendidikan formal tersebut. Sekolah merupakan tempat pengembangan kurikulum, yang meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran yang tersusun secara sistematis, strategi pembelajaran dan sistem evaluasi yang berperan untuk mengetahui sejauh mana tujuan itu tercapai. Sehingga untuk mengembangkan potensi peserta didik dalam kuantitas yang besar sambil mempertahankan kualitas pendidikan, bukanlah tugas yang mudah namun diperlukan tindakan nyata yang komprehensip dan terpadu. Usaha peningkatan tersebut tentunya tidak lepas dari peningkatan kualitas tenaga pendidik itu sendiri. Peningkatan kualitas tenaga pendidik mutlak diperlukan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan perkembangan pembangunan yang membutuhkan tenaga-tenaga terampil, kreatif dalam disiplin keilmuannya.

Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu dianggap momok bagi siswa, ketakutan akan banyaknya rumus-rumus membuat hilangnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ini. Begitu pula dengan matematika, dengan implementasi dan penggunaan metode yang tidak tepat, mampu berpengaruh besar pada kecenderungan dan minat belajar siswa pada matematika. Begitu banyak alternative yang dapat diterapkan untuk mengubah paradigma negative tersebut dikalangan siswa, contohnya saja dengan menggunakan media berbasis komputer sebagai salah satu instrument yang dapat menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga mampu mendorong proses belajarnya. Dengan demikian, sangat bermanfaat untuk siswa dan tentunya para guru pun termotivasi untuk mengembangkan ilmu komputer yang dimilikinya. Sehingga memberikan efek yang baik dan beresensi pada hasil pengalaman belajar siswa yang tentunya akan lebih interaktif dalam kelas dan menambah pengetahuan serta pemahaman  konsep Fisika siswa itu sendiri.


Hamalik (1986) dan Azhar Arsyad (2002) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan pembelajaran dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu efektifitas proses pembelajaran serta penyampaian pesan dan isi pelajaran sehingga dapat membantu siswa meningkatkan pemahamannya, karena menyajikan informasi secara menarik dan terpercaya. Selain itu media pembelajaran juga dapat memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi. Hal ini memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran, yang pada akhirnya dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa.


Beberapa konsep dalam Fisika, pada dasarnya memerlukan media untuk menjelaskan secara detail konsep tersebut.  Misalnya : Listrik Statis dan Listrik Dinamis, materi ini cukup banyak memiliki konsep yang abstrak untuk siswa. Penggambaran arus listrik dalam suatu rangkaian, hukum Ohm dan hukum Kirchoff tentunya membutuhkan media untuk menjadikannya lebih konkret dan memperjelas materi-materi yang memiliki konsep yang abstrak. Semisal juga pada materi impuls dan momentum, dengan menggunakan media berbasi computer, maka penggambaran interaksi besaran-besaran fisis pada peristiwa tumbukan lebih jelas, penyajian contoh-contoh penerapan konsep impuls dan momentum yang pada awalnya hanya membuat siswa berkhayal, namun dengan adanya media berbasis komputer dapat membantu merubah konsep-konsep yang abstark menjadi lebih konkret.
Welcome to My Blog

Selamat Datang

SC Indonesia Cabang Barru Blog hadir sebagai wadah untuk kita bisa saling berbagi saran, kritikan, ilmu dan opini yang bersifat membangun. Tak bisa dipungkiri, saat ini kita masih dalam tahap belajar dan itulah yang kemudian saya anggap sebagai sebuah dinamika tanpa batas. Semoga apa yang termuat dalam blog ini, bisa bermanfaat untuk kita semua.

Salam kasih

Kategori Blog

Popular Post

- Copyright © SCI BARRU -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -